Minggu, 28 Juni 2020

ANTIOKSIDAN

Hi readers! Aku kembali lagi nih, kali ini aku bawa info yang berbeda lho dari sebelumnya. Nah sebelum kita lanjut ke pembahasan, aku pengen nanya dulu nih, sebenarnya kalian tahu gak apasih antioksidan itu, terus apa pengaruhnya bagi tubuh kita dan apa aja sih dampak buruknya jika didalam tubuh kita kekurangan antioksidan. Nah kalo kalian pengen tahu lebih dalam mengenai antioksidan, yuk simak penjelasan berikut.

ANTIOKSIDAN

Antioksidan penting untuk kesehatan dan kecantikan serta mempertahankan mutu produk pangan. Di bidang kesehatan dan kecantikan, antioksidan berfungsi untuk mencegah penyakit kanker, tumor, penyempitan pembuluh darah, penuaan dini, dan lain lain. Antioksidan juga mampu menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif sehingga kerusakan sel dapat dicegah. Reaksi oksidasi dengan radikal bebas sering terjadi pada molekul protein, asam nukleat, lipid, dan polisakarida (Sulistyorini, 2015).
Radikal bebas sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa patologis seperti peradangan, penuaan, dan penyebab kanker. Radikal bebas (free radical) adalah atom atau molekul yang mempunyai elektron tidak berpasangan, terbentuk sebagai hasil antara (intermediet) dalam suatu reaksi organik melalui proses homolisis dari ikatan kovalen. Reaktivitas senyawa radikal bebas akan secepat mungkin menyerang komponen seluler yang berada disekelilingnya seperti senyawa lipid, lipoprotein, protein, karbohidrat, RNA, maupun DNA. Akibat reaktivitas radikal bebas akan menimbulkan terjadinya kerusakan struktur maupun fungsi sel (Prasonto, dkk., 2017).
Dalam pengertian kimia, senyawa antioksidan adalah senyawa pemberi electron (electron donors). Secara biologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negative antioksidan di dalam tubuh. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktifitas senyawa oksidan tersebut bisa dihambat, senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktifkan berkembangnya reaksi oksidan dengan cara mencegah terbentuknya radikal (Winarsi, 2007).


Gambar 1. Mekanisme Antioksidan Dengan Radikal Bebas
Sumber:  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFYQOFLEU6ea4qqYscIV-Dwtc9tCOU5iQmfui5ayf1xtAs_QyS3I4E06VrOqTvavtA4K5QMaLJfai5vrS7xSbigeuNLdOAO5NenqKhzX-rGgXU_JV2jS_KDZKbiGY76YSK7uNwDWDnPHDa/s640/Picture4.png

Berdasarkan fungsinya, antioksidan dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu antioksidan primer, antioksidan sekunder dan antioksidan tersier. Antioksidan primer berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas baru. Antioksidan yang ada di dalam tubuh manusia yang sangat terkenal adalah enzim superoksida dismutase (SOD) yang dapat melindungi hancurnya sel-sel dalm tubuh akibat serangan radikal bebas. Antioksidan sekunder berfungsi untuk menangkal radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar, misalnya seperti vitamin C, vitamin E, Cod Liver Oil (Minyak ikan kod), Virgin Coconut Oil, dan betakaroten. Antioksidan tersier berfungsi untuk memperbaiki sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas, yang termasuk dalam kelompok ini adalah jenis enzim, misalnya metionin sulfoksida reduktase yang dapat memperbaiki DNA pada penderita kanker (Winarsi, 2007). Antioksidan dikelompokkan menjadi dua berdasarkan sumbernya, yaitu antioksidan sintetik yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia dan antioksidan alami yang diperoleh dari hasil ekstaksi bahan alami.
Antioksidan adalah zat kimia yang membantu melindungi tubuh dari kerusakan sel-sel oleh radikal bebas. Radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya seperti polusi udara. Antioksidan merupakan nutrisi alami yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran tertentu, dan telah terbukti dapat melindungi sel-sel manusia dari kerusakan oksidatif dan memberikan keuntungan lainnya, seperti menguatkan kekebalan tubuh agar tahan terhadap flu, virus, dan infeksi, mengurangi kejadian semua jenis kanker, mencegah terjadinya glukoma dan degenerasi macular, mengurangi resiko terhadap oksidasi kolesterol dan penyakit jantung, serta anti penuaan dari sel dan keseluruhan tubuh (Kurniasih, 2013).
Faktor radikal bebas merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau mempercepat terjadinya proses penuaan dini. Radikal bebas menyebabkan kerusakan pada kulit, seperti menurunkan kinerja zat-zat dalam tubuh, misalnya enzim yang bekerja mempertahankan fungsi sel (enzim protektif), menimbulkan kerusakan proteon dan asam amino yang merupakan struktur utama kolagen dan jaringan elastin, kerusakan pembuluh darah kulit, dan mengganggu distribusi melanin. Kerusakan-kerusakan tersebut menyebabkan kulit menebal, kaku, tidak elastis, keriput, pucat dan kering serta timbulnya bercak kehitaman atau kecoklatan. Kerusakan pada bagian struktur kulit in memberikan gambaran klinis yang khas pada kulit di daerah terpajan matahari terutama di daerah wajah dengan gambaran wajah terlihat lebih tua dari usianya (Fisher, 2002).
Menurut Winarsi (2007) menyatakan bahwa, seseorang yang mengkonsumsi antioksidan dalam jumlah yang memadai dapat menurunkan resiko terkena penyakit yang bersifat degeneratif, antara lain seperti penyakit kardiovaskular (penyakit jantung), kanker, aterosklerosis, dan bahkan osteoporosis. Konsumsi makanan yang banyak mengandung antioksidan dapat meningkatkan status imunologi dan menghambat timbulnya penyakit degeneratif akibat penuaan. Pada dasarnya konsumsi antioksidan secara optimal dibutuhkan oleh semua umur.
Senyawa flavonoid, fenolik dan tanin merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan yang terdapat pada senyawa flavonoid, fenolik dan tanin dikarenakan ketiga senyawa tersebut adalah senyawa-senyawa fenol, yaitu senyawa dengan gugus –OH yang terikat pada karbon cincin aromatik. Senyawa fenol mempunyai kemampuan untuk menyumbangkan atom hidrogen sehingga radikal DPPH dapat tereduksi menjadi bentuk yang lebih stabil. Aktivitas peredaman radikal bebas senyawa fenol dipengaruhi oleh jumlah dan posisi hidrogen fenolik dalam molekulnya. Semakin banyak jumlah gugus hidroksil yang dimiliki oleh senyawa fenol maka semakin besar aktivitas antioksidan yang dihasilkan (Dina, dkk., dan Chao, dkk., (dalam Djuned Prasonto, dkk: 2017)).
Oleh karena itu, antioksidan sangat penting bagi tubuh karena fungsi antioksidan yang sangat mempengaruhi kesehatan tubuh, yaitu untuk mencegah terbentuknya radikal bebas baru, melindungi hancurnya sel-sel dalam tubuh akibat serangan radikal bebas, menangkal radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar, misalnya seperti vitamin C, vitamin E, Cod Liver Oil (Minyak ikan kod), Virgin Coconut Oil, dan betakaroten, serta untuk memperbaiki sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas. Antioksidan alami dapat ditemukan pada buah-buahan maupun sayur-sayuran. Selain itu terdapat juga antioksidan sintetik yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia. Antioksidan juga dapat mencegah terjadi penuaan dini. Oleh sebab itu, agar terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan, disarankan agar mengonsumsi buhan-buahan atau sayur-sayuran tertentu yang mengandung antioksidan agar kandungan antioksidan di dalam tubuh tidak berkurang. Namun, antioksidan juga akan memberikan dampak buruk jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Mengonsumsi antioksidan secara berlebihan dapat memberikan efek negative bagi kesehatan tubuh sehingga menimbulkan beberapa macam penyakit. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk mengonsumsi antioksidan sesuai kebutuhan saja.

Nah dari penjelasan di atas mengenai antioksidan, sekarang kita jadi lebih mengetahui pentingnya antioksidan bagi kesehatan tubuh untuk menangkal radikal bebas. Oleh sebab itu, kita dianjurkan untuk mengonsumsi buah ataupun sayuran yang mengandung antioksidan dengan catatan jangan berlebihan dalam mengonsumsi antioksidan. Semoga apa yang sudah dijelaskan bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua.
See you!!



Referensi:
Fisher, G.J. 2002. Mechanism of Photoaging and Cchronological Aging. Arch. Derm Vol. 138.
Hardiyanthi, Febby. 2015. Pemanfaatan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringan oleifera) Dalam Sediaan Hand And Body Cream. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Kurniasih. 2013. Khasiat dan Manfaat Daun Kelor Untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Prasonto, Djuned., Eriska Riyanti, dan Meirina Gartika. 2017. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum). ODONTO Dental Journal Vol. 4 No. 2. Bandung: Universitas Padjajaran.
Sulistyorini, Arsinta. 2015. Potensi Antioksidan Dan Antijamur Ekstrak Umbi Bawang Putih (Allium sativum) Dalam Beberapa Pelarut Organik. Skripsi. Malang: Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim.
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas: Potensi dan Aplikasinya Dalam Kesehatan. Yogyakarta: Kansius.


5 komentar:

ANTIOKSIDAN

Hi readers! Aku kembali lagi nih, kali ini aku bawa info yang berbeda lho dari sebelumnya. Nah sebelum kita lanjut ke pembahasan, aku peng...