Hi
readers! Aku kembali lagi nih, kali ini aku bawa info yang
berbeda lho dari sebelumnya. Nah sebelum kita lanjut ke pembahasan, aku pengen
nanya dulu nih, sebenarnya kalian tahu gak apasih antioksidan itu, terus apa pengaruhnya bagi
tubuh kita dan apa aja sih dampak buruknya jika didalam tubuh kita kekurangan
antioksidan. Nah kalo kalian pengen tahu lebih dalam mengenai antioksidan,
yuk simak penjelasan berikut.
ANTIOKSIDAN
Antioksidan
penting untuk kesehatan dan kecantikan serta mempertahankan mutu produk pangan.
Di bidang kesehatan dan kecantikan, antioksidan berfungsi untuk mencegah
penyakit kanker, tumor, penyempitan pembuluh darah, penuaan dini, dan lain
lain. Antioksidan juga mampu menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikat
radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif sehingga kerusakan sel dapat
dicegah. Reaksi oksidasi dengan radikal bebas sering terjadi pada molekul
protein, asam nukleat, lipid, dan polisakarida (Sulistyorini, 2015).
Radikal bebas sering dikaitkan
dengan berbagai peristiwa patologis seperti peradangan, penuaan, dan penyebab
kanker. Radikal bebas (free radical)
adalah atom atau molekul yang mempunyai elektron tidak berpasangan, terbentuk
sebagai hasil antara (intermediet) dalam suatu reaksi organik melalui proses
homolisis dari ikatan kovalen. Reaktivitas senyawa radikal bebas akan secepat
mungkin menyerang komponen seluler yang berada disekelilingnya seperti senyawa
lipid, lipoprotein, protein, karbohidrat, RNA, maupun DNA. Akibat reaktivitas
radikal bebas akan menimbulkan terjadinya kerusakan struktur maupun fungsi sel
(Prasonto, dkk., 2017).
Dalam pengertian kimia, senyawa antioksidan
adalah senyawa pemberi electron (electron
donors). Secara biologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang mampu
menangkal atau meredam dampak negative antioksidan di dalam tubuh. Antioksidan
bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat
oksidan sehingga aktifitas senyawa oksidan tersebut bisa dihambat, senyawa ini
memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktifkan berkembangnya reaksi
oksidan dengan cara mencegah terbentuknya radikal (Winarsi, 2007).
Gambar 1. Mekanisme Antioksidan Dengan Radikal Bebas
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFYQOFLEU6ea4qqYscIV-Dwtc9tCOU5iQmfui5ayf1xtAs_QyS3I4E06VrOqTvavtA4K5QMaLJfai5vrS7xSbigeuNLdOAO5NenqKhzX-rGgXU_JV2jS_KDZKbiGY76YSK7uNwDWDnPHDa/s640/Picture4.png
Berdasarkan fungsinya, antioksidan dapat
dibedakan menjadi tiga macam yaitu antioksidan primer, antioksidan sekunder dan
antioksidan tersier. Antioksidan primer berfungsi untuk mencegah terbentuknya
radikal bebas baru. Antioksidan yang ada di dalam tubuh manusia yang sangat
terkenal adalah enzim superoksida dismutase (SOD) yang dapat melindungi
hancurnya sel-sel dalm tubuh akibat serangan radikal bebas. Antioksidan
sekunder berfungsi untuk menangkal radikal bebas serta mencegah terjadinya
reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar, misalnya
seperti vitamin C, vitamin E, Cod Liver
Oil (Minyak ikan kod), Virgin Coconut
Oil, dan betakaroten. Antioksidan tersier berfungsi untuk memperbaiki
sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas, yang termasuk
dalam kelompok ini adalah jenis enzim, misalnya metionin sulfoksida reduktase
yang dapat memperbaiki DNA pada penderita kanker (Winarsi, 2007). Antioksidan
dikelompokkan menjadi dua berdasarkan sumbernya, yaitu antioksidan sintetik
yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia dan antioksidan alami yang
diperoleh dari hasil ekstaksi bahan alami.
Antioksidan adalah zat kimia yang membantu
melindungi tubuh dari kerusakan sel-sel oleh radikal bebas. Radikal bebas ini
dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya seperti
polusi udara. Antioksidan merupakan nutrisi alami yang ditemukan dalam
buah-buahan dan sayuran tertentu, dan telah terbukti dapat melindungi sel-sel
manusia dari kerusakan oksidatif dan memberikan keuntungan lainnya, seperti
menguatkan kekebalan tubuh agar tahan terhadap flu, virus, dan infeksi,
mengurangi kejadian semua jenis kanker, mencegah terjadinya glukoma dan
degenerasi macular, mengurangi resiko terhadap oksidasi kolesterol dan penyakit
jantung, serta anti penuaan dari sel dan keseluruhan tubuh (Kurniasih, 2013).
Faktor radikal bebas merupakan faktor utama
yang mempengaruhi atau mempercepat terjadinya proses penuaan dini. Radikal
bebas menyebabkan kerusakan pada kulit, seperti menurunkan kinerja zat-zat dalam
tubuh, misalnya enzim yang bekerja mempertahankan fungsi sel (enzim protektif),
menimbulkan kerusakan proteon dan asam amino yang merupakan struktur utama
kolagen dan jaringan elastin, kerusakan pembuluh darah kulit, dan mengganggu
distribusi melanin. Kerusakan-kerusakan tersebut menyebabkan kulit menebal,
kaku, tidak elastis, keriput, pucat dan kering serta timbulnya bercak kehitaman
atau kecoklatan. Kerusakan pada bagian struktur kulit in memberikan gambaran
klinis yang khas pada kulit di daerah terpajan matahari terutama di daerah
wajah dengan gambaran wajah terlihat lebih tua dari usianya (Fisher, 2002).
Menurut Winarsi
(2007) menyatakan bahwa, seseorang yang mengkonsumsi antioksidan dalam jumlah
yang memadai dapat menurunkan resiko terkena penyakit yang bersifat
degeneratif, antara lain seperti penyakit kardiovaskular (penyakit jantung),
kanker, aterosklerosis, dan bahkan osteoporosis. Konsumsi makanan yang banyak
mengandung antioksidan dapat meningkatkan status imunologi dan menghambat timbulnya
penyakit degeneratif akibat penuaan. Pada dasarnya konsumsi antioksidan secara
optimal dibutuhkan oleh semua umur.
Senyawa flavonoid, fenolik dan tanin
merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan yang terdapat pada senyawa
flavonoid, fenolik dan tanin dikarenakan ketiga senyawa tersebut adalah
senyawa-senyawa fenol, yaitu senyawa dengan gugus –OH yang terikat pada karbon
cincin aromatik. Senyawa fenol mempunyai kemampuan untuk menyumbangkan atom
hidrogen sehingga radikal DPPH dapat tereduksi menjadi bentuk yang lebih
stabil. Aktivitas peredaman radikal
bebas
senyawa fenol dipengaruhi oleh jumlah dan posisi hidrogen fenolik dalam
molekulnya. Semakin banyak jumlah gugus hidroksil yang dimiliki oleh senyawa
fenol maka semakin besar aktivitas antioksidan yang dihasilkan (Dina, dkk., dan Chao, dkk., (dalam Djuned Prasonto,
dkk: 2017)).
Oleh karena itu, antioksidan
sangat penting bagi tubuh karena fungsi antioksidan yang sangat mempengaruhi
kesehatan tubuh, yaitu untuk mencegah terbentuknya radikal bebas baru,
melindungi hancurnya sel-sel dalam tubuh akibat serangan radikal bebas, menangkal
radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi
kerusakan yang lebih besar, misalnya seperti vitamin C, vitamin E, Cod Liver Oil (Minyak ikan kod), Virgin Coconut Oil, dan betakaroten,
serta untuk memperbaiki sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal
bebas. Antioksidan alami dapat ditemukan pada buah-buahan maupun sayur-sayuran.
Selain itu terdapat juga antioksidan sintetik yang diperoleh dari hasil
sintesis reaksi kimia. Antioksidan juga dapat mencegah terjadi penuaan dini.
Oleh sebab itu, agar terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan,
disarankan agar mengonsumsi buhan-buahan atau sayur-sayuran tertentu yang
mengandung antioksidan agar kandungan antioksidan di dalam tubuh tidak
berkurang. Namun,
antioksidan juga akan memberikan dampak buruk jika dikonsumsi dalam jumlah yang
berlebihan. Mengonsumsi antioksidan secara berlebihan dapat memberikan efek negative
bagi kesehatan tubuh sehingga menimbulkan beberapa macam penyakit. Oleh sebab
itu, dianjurkan untuk mengonsumsi antioksidan sesuai kebutuhan saja.
Nah dari penjelasan di atas mengenai
antioksidan, sekarang kita jadi lebih mengetahui pentingnya antioksidan bagi
kesehatan tubuh untuk menangkal radikal bebas. Oleh sebab itu, kita dianjurkan
untuk mengonsumsi buah ataupun sayuran yang mengandung antioksidan dengan
catatan jangan berlebihan dalam mengonsumsi antioksidan. Semoga apa yang sudah
dijelaskan bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua.
See you!!
Referensi:
Fisher, G.J. 2002. Mechanism of Photoaging and
Cchronological Aging. Arch. Derm Vol.
138.
Hardiyanthi, Febby. 2015. Pemanfaatan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringan
oleifera) Dalam Sediaan Hand And Body Cream. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah.
Kurniasih. 2013. Khasiat
dan Manfaat Daun Kelor Untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit. Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Prasonto, Djuned., Eriska Riyanti, dan Meirina
Gartika. 2017. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum). ODONTO Dental Journal Vol. 4 No. 2. Bandung: Universitas
Padjajaran.
Sulistyorini, Arsinta. 2015. Potensi Antioksidan Dan Antijamur Ekstrak Umbi Bawang Putih (Allium
sativum) Dalam Beberapa Pelarut Organik. Skripsi. Malang: Universitas Islam
Negeri Malik Ibrahim.
Winarsi, H. 2007. Antioksidan
Alami dan Radikal Bebas: Potensi dan Aplikasinya Dalam Kesehatan.
Yogyakarta: Kansius.

